About My Dream

Agaknya, hidup tanpa cita-cita seperti tanpa tantangan.

Bapak penulis pernah mengatakan. Jika hidup tanpa cita-cita maka hidupmu kurang lengkap. Karena cita-cita itulah yang akan menjadikan kita tau bagaimana kita antara batasan kelebihan dan kelemahan kita. Suatu kali, penulis pernah mewakili lomba menggambar tingkat TK se kabupaten Sidoarjo. Awal mulanya karena ada semacam mata pelajaran yang mengharuskan penulis menggambar tanaman. Karena sulitnya penulis lantas menggambar dau dan kelopaknya melikuk-likuk jauh dari mirip. Namun, siapa sangka justru dengan itu penulis diwakilkan untuk mengikuti lomba menggambar. Setelah bapak tau masalah lomba gambar ini akhirnya ada satu pertanyaan yang dilemparkan kepada penulis.

“Besok jadi arsitek ya kalau sudah besar.” Saya hanya mengangguk tanpa memahami apa itu arsitek. Yang ada dibenak saya dulu arsitek itu semacam orang yang suka gambar interior rumah juga merancang rumah saja. Ternyata lebih dari itu. Hehehe 😀

Selang beberapa tahun kemampuan penulis juga bisa dilihat dari kecerdasan Linguistik-nya. Suatu kali penulis pernah iseng ikut teman sepermainan private Bahasa Inggris di rumah pamannya. Karena pamannya salah satu takmir mushollah tempat penulis juga keluarga biasa sholat maka dia ikut tanpa ada beban biaya, alias gratis. Dari situlah penulis menyadari jika bahasa Inggris itu juga sangat menarik, ternyata ada bahasa lain selain bahasa Jawa, Indonesia dan bahasa Tubuh. Akhirnya kemampuan vucabulary penulis semakin banyak dan bapak penulis sepakat besok kalau kuliah ambil pendidikan bahasa Inggris. Untuk mengasah menjadi translator dan tentu saja cita-cita menjadi arsitek sudah mulai dilupakan.

Sebelum arsitek dan translator tercipta dahulu penulis juga sempat ditanya guru TK penulis. “Cita-cita dliyaun ingin jadi apa?” seperti halnya guru TK. Waktu itu guru TK yang paling sering bertanya mengenai anak didiknya hanya Bu Nik. Wanita berbadan tambun nan murah hati.

“Jadi dokter, Bu Niiiiik!” Dan Bu Nik pun sudah mulai tahu jika dokter juga menjadi cita-cita favorite anak didiknya selain guru, polisi dan tentara.

“Kenapa pilih dokter?”

“Biar seperti susan, kalau ada yang sakit langsung di suntik encuuus encuuus encuuus.” Sambil menirukan suara Boneka Susan milik Kak Ria Enes. Karena memang sejak kecil penulis suka dinyanyikan lagu Cita-citaku milik Susan dan Kak Ria Enes. Yang belum tau coba google aja ya. Hehehe 😀

Akhirnya, setelah masuk SD penulis pindah tidur di Madura, dari itulah penulis sudah mulai memikirkan lagi sebenarnya cita-cita penulis apa. Karena memang tidak memiliki bakat apa-apa maka penulis hanya berkesimpulan ingin jadi, Dokter. Namun, lagi. Cita-cita itu akan berubah, sekolah tempat penulis di Madura tidak mendukung program IPA. Karena fokus program pendidikan di sekolah penulis adalah keagamaan. Jadi mau tidak-mau harus menelan lagi cita-cita dokter itu.

Dua tahun akhir tahun sebelum lulus penulis disibukkan menjadi penulis Mading pesantren. Sejak saat itu penulis ingin menggeluti dunia tulis menulis. Memang tak gampang, harus banyak membaca. Karena pengeluaran pemasukan berbanding terbalik dengan gaji dan pengeluaran. Jika biasanya gaji setiap orang 3 Juta Rupiah maka pengeluaran akan lebih kecuali jika direncanakan dan di hemat. Namun, menulis berbeda. Berapa yang dikonsumsi akan sedikit dengan berapa yang dikeluarkan. Karena itu penulis juga harus memiliki wajah kutu, wajah kepo dan wajah peka.

Setelah memasuki dunia kampus penulis akhirnya lelah dengan aktifitas menulis dan membaca. Penulis hanya berkecimpung dengan kenikmatan pemandangan visual. Sering menikmati drama, film asia, film lainnya. Jarang membaca juga jarang peka. Intinya sattu atau bahkan dua tahun pertama kuliah emosi dan indera yang dulu sudah diaktifkan mulai mati. Dan harus dihidupkan lagi pun caranya sudah sangat susah.

Jika dulu waktu SMP masih hobi menggambar, baca buku dan menulis cerpen. Maka musnah sudah semua cita-cita penulis sejak masuk kuliah. Dia kira dengan kuliah semuanya akan menjadi baik dengan sendirinya. Ternyata salah, karena kuliah awal dia harus menyambung satu persatu benang kusut untuk menjaring mangsa didepan mata suatu hari nanti (aduuhh!). Akhir kuliah juga penulis sudah mulai disibukkan dengan tugas akhir dan segalanya.

Kapan penulis memulai menulis lagi? Menuju semester 4 tahun 2014. Mei 2014 penulis tiba-tiba memukul jackpot. Siapa sangka ternyata dengan cara itu Allah memberi kelapangan dada penulis untuk menjadi peka dan kepo di lingkungan. Selang beberapa tahun itu penulis pontang panting baca lagi sana sini buku atau muroja’ah lagi beberapa buku yang sudah pernah penulis baca sebelumnya. Ternyata mengembalikan energi itu juga sangat sulit.

Ujungnya penulis tak akan muluk-mulu, penulis hanya ingin menjadi penulis produktif juga menjadi Pekerja Sosial Profesional. Tanpa meninggalkan jejak Islam selama 6 tahun gemblengan juga ingin mengembangkan 4 tahun yang dicari penulis didunia kampus. Pekerja Sosial Profesional berjiwa Islami tanpa menghakimi juga untuk mengabdi. Bayarannya, itu masalah suami :D…

Prakteknya?

  1. Pada Anak-anak (karena mereka memang salah satu kaum rentan)
  2. Pada Orang Tua (Mertua juga, karena ada saatnya mereka juga menjadi lansia.)
  3. Pada Saudara (Tak ada saudara yang layak kita lupakan, mereka juga yang menjalin darah dengan kita)
  4. Pada Tetangga (Karena relasi pertama setelah keluarga sendiri adalah dengan tetangga)
  5. Pada Masyarakat (sebagai bentuk pengabdian)
  6. Pada suami, karena setelah semua itu telah terjaga maka tak ada yang lebih bisa mendukungnya selain banyak dukungan dan arahan suami tercinta. Dan saat itu pula praktek kepadanya menjadi praktek bersamanya. Dengan menjadi pendamping serta teman setia syi’ar-syi’ar dakwahnya.

Itu sedikit pelurusan niat cita-cita Dliyaun Najiihah. Semoga Allah mengabulkan semua cita-cita dan mimpi-mimpi yang tertulis ini. Aamiin…