Cerpen

O

img_9804

Sebelumnya, Mian! untuk penggemar Korea (K-POP n K-Drama) kalo karya saya ini jauh dari sempurna. selanjutnya mohon dukungannya ya untuk penulis.

Kotak surat berwarna hitam di muka kedai Ayam Mr. Oh sedikit terbuka. Sebatang bunga Hortensia hijau masih kuncup menyembul dari dalam terkesan ingin segera diambil penerima. Agaknya akan lama dia segera mendarat pada si Penerima jika tak ada Si Jakung bermata kecil. Angin musim semi membelai-belai wajahnya yang putih merona.

Eonni.. agaknya ada yang mengirim sesuatu untukmu.” Pekik si Jakung setelah bunyi ting dipintu masuk terdengar nyaring menggema kedai Chicken Mr. Oh. Matanya jeli melihat sepucuk surat yang melekat bunga Hortensia Hijau Kuncup ditangannya. “Kupikir hanya sebatang bunga. Ternyata bukan.” Dia letakkan bunga Hortensia tadi dimeja resepsionis.

Kotak surat itu berdiri tepat didepan kedai berwarna merah bata diujung tikungan gang kecil Ubak-gil distrik Oedong kota Gyeongju, bangunannya tak begitu megah namun asri untuk ukuran kedai pinggir kota. Didepannya beberapa tanaman hias memadati halaman, bagian atas kedai bertuliskan Chicken Mr. Oh. Sebelah kiri bangunan ada minimarket ditengah-tengah antar bangunan itu menjadi lorong kecil menuju bangunan atas rumah kecil bercat putih milik pak Oh untuk putri kesayangannya. Jika kau ingin menikmati udara siang sejuk musim semi tempat ini dibangun sesuai rekomendasi untuk menikmati keindahan tengah kota dengan gedung-gedung pencakar langit. Berhadapan langsng dengan taman kota yang ramah anak. Tentu akan banyak hal yang bisa kau kerjakan selain berdiam diri duduk didepan kedai Chicken Mr. Oh.

Siang itu hanya dua pasang meja yang terisi pelanggan Ayam Mr. Oh. Pemiliknya sekarang seorang wanita usia 25 tahun Oh Pyung Hwa. Meski senggang Pyung Hwa tak berminat membuka isi surat itu setelah tau dari mana surat itu beralamatkan meskipun tanpa alamat pengirim. Surat itu sama seperti surat-surat sebelumnya, dialamatkan kepadanya dan ditujukan kepadanya. Tiga surat pertama dia buka, yang pertama sebagian berisi tentang kekhawatiran selain menyanyakan kabar kehidupannya selama ini. Kedua dan ketiga surat itu tak pernah berhasil menyita perhatiannya, bahkan kertas surat yang dia pakai pun sebatas sobekan dari beberapa lembar buku yang sudah usang. Surat-surat selanjutnya Pyung Hwa kira mungkin hanya berbasa-basi atau mungkin juga sebuah penantian, itu pasti.

Namun, yang dia yakini mendiang ayahnya tak pernah memberinya ijin untuk berinteraksi dengan si pengirim, ibu kandungnya.Tak ada yang dia tau dengan pasti keputusan mendiang ayahnya seperti itu. Dulu Pyung Hwa kecil hanya tau jika ibunya adalah seorang wanita lembut sama seperti wanita-wanita Busan lainnya yang cenderung pemalu dan jujur. Karena sebuah kekecewaan ayahnya membawanya serta menjauhi ibunya dan hidup jauh terpisah hingga sepeninggal ayah.

“Tidak ada yang mau memperdulikan semua pikiran rumitmu itu.” Kalimat terakhir itu Oh Hyun Shik teriakkan kepada istrinya ditengah-tengah tangisan Pyung Hwa memeluk kaki kanannya sebelum meninggalkan Busan.

Oh Hyun Shik menggendong Pyung hwa, memeluknya erat sepanjang perjalanan menuju kota Gyeongju. Kata Appa1 Oh, ia akan mencarikan rumah mungil nan indah yang bisa mereka tinggali berdua tanpa ibu. Bagi Appa Oh, keberadaan ibu akan menyesakkan kehidupannya juga akan mengganggu kehidupan Pyung Hwa. Sedikit-demi sedikit Appa Oh merintis kedai ayam kecil, hingga memiliki sebuah minimarket berdampingan dengan kedai tersebut. Selama di Gyeongju mereka hidup berdampingan dengan saudara kecil ayahnya, Bibi Oh Min Ji.

Pyung Hwa menarik nafas berat. Andai ayahnya tau jika wanita yang tak boleh disebut namanya itu akhirnya mengiriminya kabar setelah kematiannya. Mereka pikir wanita itu sudah mati atau ditelan bumi setelah sekian tahun tak lagi mencari dan menarik-narik kembali Pyung Hwa bersamanya. Andai dia juga tau apa penyebab ayahnya membenci wanita itu hingga akhir hidupnya pun tak pernah memaafkan wanita yang sudah melahirkannya itu. Andai dia tau jika selama ini dia juga terkadang merindukan ibunya yang dulu diam-diam menyanyikannya lagu pengantar tidur untuknya, mendongengkannya tentang Dua Naga.

“Jae Hee-ya.. tolong jaga kedai aku akan segera kembali secepatnya.” Pyung Hwa menyambar bunga Hortensia pagi ini keluar menuju pintu. Tak jauh dari kedai Chicken Mr. Oh seorang ahjumma berbaju sedikit tipis tengah sibuk memindai sampah daur ulang. Bunga Hortensia sekaligus sepucuk suratnya dia buang ditumpukan sampah hingga mengagetkan ahjumma berbaju tipis. Dia membungkuk meminta maaf sambil bergumam jeosonghamnida! berkali-kali pada ahjumma tersebut tanpa memandang wajahnya.


Sama seperti sebelumnya setiap pagi dia akan menerima surat dan setiap siangnya akan dia buang pada TPA tak jauh dari kedai. Dan selama itu pula dia akan menjumpai ahjumma pemindah sampah. Sesekali dia tertarik pada kegiatan ahjumma itu sesekali dia membiarkan matanya menilik sedikit demi sedikit barang apa saja yang dia pindai. Ada mainan anak, ada penutup botol soju2, paling banyak kaleng minuman soda, plastik, gelas bekas minuman ringan, juga kertas makanan lainnya.

Dia teringat tangan ibunya dulu yang lincah memindai teri kering sebelum dimasak menjadi campuran bibimbab kesukaannya. Yang dia ingat hanya tangan lincah ibunya, jika dengan wajahnya dia akan lupa karna tak ada satu foto pun yang pernah ayah Oh tunjukkan padanya. Selain itu, sepeninggalnya dulu dari Busan ketika dia berusia kurang dari empat tahun. Tak ada lagi alasan untuknya bisa mengingat seperti apa ibunya sekarang.

Senyum ahjumma itu merekah ketika karung perolehannya semakin menumpuk melebihi tinggi tubuhnya. Akan di kemanakan sampah itu kelak? Hanya saja dia tahan pertanyaan itu dengan sempurna melihat senyum pucat ahjumma peminda sampah. Dia akan senang melihat panen sampah ahjumma itu dari balik kaca kedai. Sesekali matanya mengekor kepergian ahjumma itu hingga bayangnya hilang ditelan tikungan gang.Setelah puas melihat kegiatan ahjumma peminda sampah dia akan sibuk membaca buku catatan kesayangan ayah Oh.

Baginya, ayahnya akan selalu ada pada setiap rangkaian kata yang ada pada setiap lembar-lembar buku itu. Seperti sebuah surat cinta, juga seperti sebuah catatan cinta. Emosinya akan membaik ketika membacanya, hingga bertambah kerinduan pada ayahnya yang sekian kali menyesakkan sebagian paru-parunya. Seolah tak akan pernah penuh dalam buku itu akan ada banyak ceritanya juga cerita ayah Oh. Tak hanya rangkaian kata juga sanjungan untuk Pyung Hwa kecil, ada bermacam-macam keinginan ayah yang sering juga mereka penuhi bersama-sama. Kecuali satu keinginan Pyung Hwa yang tak pernah bisa ayahnya penuhi hingga gagal jantung memihaknya satu tahun lalu.

Ahjumma itu datang lagi, setiap siang hari tepat sebelum pukul 11 siang. Dia akan mengeluarkan karung besar dan besi panjang berujung melengkung dari dalam gerobak. Tak sampai tiga jam kegiatannya sudah berakhir dengan beberapa karung besar memenuhi gerobaknya. Ketika itu jugalah adegan yang selalu dinanti Pyung Hwa, saat dimana senyum ahjumma peminda sampah merekah melihat gunungan sampah menyesaki gerobaknya. Tiba-tiba senyum ahjumma peminda sampah itu berubah menjadi senyum satire ketika melihat wajah Pyung Hwa dibalik kaca kedai. Selama ia membuang sampah tak sekalipun dia lihat getir wajah ahjumma itu ketika berpapasan dengannya, namun sekali itu lain.

Ada apa dengan ahjumma itu? Tiba-tiba Pyung Hwa penasaran ketika bayangan ahjumma sudah habis ditelan tikungan gang. Apa aku tak pernah mencoba membantunya hingga membuatnya marah? Batinnya masih bertanya, apa gerangan yang embuatnya seperti di benci? Ah… itu kan sudah pekerjaannya. Mana mungkin dia seperti itu kepadaku? Batinnya lagi mencoba membelanya. Toh, kesibukanku juga bukan alasan untuk mendapatkan bantuannya. Ahbetul-betul. Pyung Hwa semakin mengangguk mantap membela pikirannya tentang ahjumma tersebut.

Sudah sejak kemarin ahjumma peminda sampah tidak datang. Sampah di TPA semakin menumpuk. Apa tak ada orang lain yang bisa memindai sampah selain ahjumma itu? Pyung Hwa hanya berusaha berpikir tentang kesibukan apa yang ahjumma itu lakukan hingga membuatnya absen memindai sampah yang sekian hari semakin menumpuk jika dibiarkan. Tanpa memberikan kepastian kepada Jae Hee yang sedang duduk membaca buku dikursi kasir dia keluar tangan kosong menuju TPA. Beberapa bunga Hortensia miliknya kemarin dan hari ini masih ada, lengkap dengan amplop surat.

“Tiba-tiba ahjumma mengoleksi semua surat-suratmu itu.” Suara serak itu mendekatinya. Ahjumma itu sekarang berdiri tepat dibelakangnya menjinjing sekeranjang bunga Hortensia mekar lengkap semua warna. Pyung Hwa hanya terdiam.

“Surat-surat yang sering kau buang setahun ini. Tanpa kau buka isinya.” Pyung Hwa hanya mendengarkannya. Ahjumma itu mendekatinya menyodorkan sekeranjang bunga Hortensia, kali ini bukan dengan surat melainkan dengan buku tebal. Buku yang sama seperti buku kesukaan ayah Oh yang sudah lusung berisi cerita mereka. Hanya saja buku itu terlihat terawat meskipun juga harusnya sudah lusung seperti buku ayah Oh.

“Buku ini, hanya appa dan eomma3 yang punya.” Suatu ketika ayahnya bercerita, itu kali pertama ayahnya mau membuka mulut mengenai sosok ibu Pyung Hwa lewat buku mereka. Mereka membuatnya sendiri menghias covernya juga sendiri bunga Hortensia asli yang di keringkan menjadi latar covernya. Hanya buku tulis biasa namun mereka ciptakan dengan cinta, mereka rangkai beberapa gambar disetiap lembarnya dengan tangan mereka sendiri menjadi semacam doodle art. Lewat buku itu ayahnya menceritakan jika suatu saat nanti akan ada cerita singkat dari salah satu buku tersebut.

Appa tak tau apakah buku ini atau buku milik eomma-mu.” Sekiranya dulu tak pernah berpisah, maka buku itu akan menjadi rangkaian kisah cinta mereka yang manis. Namun, akhirnya mereka berpisah. Buku itu tak pernah memiliki cerita manis yang sama saling bersahutan mengenai mereka.

Namun, siapa sangka cerita singkat itu menjadi semakin manis ketika mereka berpisah. Ada sebuah kerinduan juga ada sebuah kebencian, dilema. Karena mereka berpisah akhirnya ceritanya terpisah menjadi beberapa bagian. Bukan salah satu dari buku itu yang menyimpan cerita, tapi keduanya. Satu berisi tentang kerinduan, satu berisi tentang pengharapan juga tentang kebencian.

Tangan ahjumma itu bergetar menyerahkan sekeranjang bunga Hortensia pada Pyung Hwa. “Appa-mu selalu benar, eomma yang terlalu memaksa diri mundur sejak halmeoni4-mu tidak merestui hubungan kami.” Pyung Hwa hanya mendengarkan, kepalanya pening seperti ditusuk-tusuk.

Ahjumma berlalu meninggalkan Pyung Hwa yang masih menyimpan sedikit keraguan, benarkan ‘What about O?’ adalah semua yang berkaitan dengan mereka?. Buku itu semakin melebar di pupil matanya. Rangkaian potongan kelopak bunga Hortensia membentuk huruf O tergenang dimatanya. Oh, karena nama depan mereka yang sama mereka tak dapat bersama, seperti perkiraan eomma hari itu. Eomma!

 

[1] Appa (아빠)        : Ayah. Biasanya bagi anak perempuan.

[2] Soju (소주)         :Minuman distilasi asal Korea. Sebagian besar merek soju diproduksi di Korea Selatan.

[3] Eomma (엄마)    : Ibu

[4] Halmeoni (할머니)        : Nenek

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s