Curcol

Rokok dan Anak Sawah

DSC08912

Pro dan kontra mengenai kenaikan harga rokok sepertinya masih menjadi pembahasan meskipun sudah terlampau basi namun masih bisa digali. Bagi saya sendiri sah-sah saja jika harga rokok melangit dan bahkan membumbung tak terjangkau pasaran. Mengingat bukan lagi masalah harga yang kita tangani. Beruntung semakin bertebaran meme-meme mengenai kenaikan harga rokok, saya juga bersyukur setidaknya dengan itu saya tahu jika hal ini masih dipedulikan banyak kalangan. Mulai dari yang menerima atau yang menolak, minimal saya tertolong dengan aksi mereka yang banyak menyadarkan. Ohh.. ternyata masih banyak yang menyeyangkan. Ya secara saja bagi saya banyak peminatnya karena memang banyak pula yang menekannya, setidaknya sebanding juga.

Jangan tanyakan saya apakah saya menolak atau menerimanya. Saya menolak rokoknya, juga saya menerima kenaikan harganya. Adil kan? Tentu. Itu yang saya harapkan, agar semakin tinggi harga rokok semakin tak bisa dijangkau pun tak apa lah.. Hanya saja rokok bukan penghalang untuk menjadi semakin berani. Jika saja siang tadi tak saya pergoki masalah anak sawah dan rokoknya maka saya tidak akan berkicau sekarang ini.

Kemarin hari saya juga sudah menulis perihal anak sawah jadi informasi mengenai sawah bisa lihat disini.

Luar biasa kaget melihat mereka menggenggam rokok yang masih panjang menyala disekitar sawah. Sambil menghisap mereka tersenyum menanggapi ekspresi kaget luar biasa saya.

“Loh ngerokok?!” Iya mereka dua orang, sama berseragam batik SD atau bisa dikatakan MI. Karena mengingat yang mereka pakai berlengan panjang dan celana panjang, tentu sekolah negeri jarang pula yang menginspirasi gaya busana sedemikian kecuali memang sekolah islam negeri.

“Diuruki sopo? (Diajari siapa?)” Seperti biasa saya memakai logat jawa kental agak kasar, tujuan pertama mendekat dengan hati mereka yang kedua jika tidak mereka tak akan terbuka.

“Diuruk i masku. (Diajari mas saya)” Jawab yang lebih besar.

“Kelas piro? (Kelas berapa?)”

“Kelas enam.”

“Awakmu? (Kamu?)” berganti saya tanya satu temannya.

“Empat.” Sambil beringsut takut saya marahi lebih jauh. Mereka hanya berdua, satu tinggi untuk ukuran anak kelas enam SD cukup juga dengan satu lagi seukuran lebih menyerupai adiknya kecil kurus kering.

Wajah mereka kusam dan masih berseragam sekolah.

“Nek gurumu ero yaopo? (Kalau guru kalian tau gimana?)” mereka hanya tertawa bersiap lari menjauhi saya.

Tak ada pikiran macam-macam saya mengenai mereka. Untuk memotret pula sudah hilang pikiran saya mengenai hal itu, padahal sudah jelas saya menggenggam kamera (bukan kamera handphone). Ya memang semuanya bisa terjadi kapan saja kita siapa atau tidak siap pun saya masih berusaha menerka kok tega keluarganya seperti itu?

Bagi saya memang kelaurga memang nomer satu. Apa lagi mengenai hal mendidik dan menjadi panutan. Bisa jadi mereka belajar bukan secara langsung diajari oleh sang kakak, bisa jadi mereka hanya melihat lantas mengingat, meniru dna terakhir melakukan hal yang sama. Jika memang demikian, dari ujung menjadi tunas saja kita masih belum mentas secara mental bagaimana kelak menjadi ke banggaan negeri?

Masih ingat negeri? Berarti sama, meskipun momen kemerdekaan sudah agak basi hari ini. Tapi ingat ternyata hidup kita jauh dari merdeka. Kenapa? Saya menentang bagaimana bisa rokok menjadi hal sepele jika memang rokok juga awal dari kebobrokan remaja (susah menjabarkannya). Anak kita hari ini saja sudah seperti itu bagaimana jika nanti dan lusa? Ingat! Belum kelar 10 hari perayaan kemerdekaan tapi sudah banyak dosa anak bangsa seperti ini.

Saya mulai curiga jangan-jangan mengenai kemerdekaan, sebagian dari kita tak pernah memaknai jika kita juga harus berjuang melawan kebodohan juga? Tentu, rokok bagi saya menjadi tonggak utama kebodohan umat.

Miris, apa lagi mereka masih sekolah (pulang sekolah) dan memiliki banyak sekali masa depan. Saya lumayan tidak terima, bagaimana bisa? Ahh.. lain waktu lagi harus lengkap pembahasannya. Saya hanya kaget dan tak bersemangat untuk hari ini (penulisnya lagi gak enak badan). Terima kasih sudah ngkrongi curcol saya…

Dikomentari juga boleh. ^^

Iklan

7 thoughts on “Rokok dan Anak Sawah”

    1. Aku aslinya ada 3 blog sejak MABA. Blogspot, wordpress dama tumblr. Blogspotnya dihapus soalnya ruwet pake javascript. Gak mau repot pake wordpress aja sekarang bisa instant gak pake lama ada semuanya (Intinya males ribet). Yang tumblr dipake waktu ada android dulu pengganti diary. Hahaha 😀

      Suka

  1. iya fin.mendingan dihapus kalo blogspot. Aku ndak terlalu tau masalah blogspot makanya aku pake wordpress aja. Terus kalo apses wordpress pake laptop juga kadang pake hp sih. berhubung hp juga join masa punya adek jadi ya sering di laptop aja. Hehehe

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s