Curcol

Ular dan Anak Sawah

Bagaimana perasaan kawan-kawan jika mendadak ada yang menyodorkan satu ekor ular kehadapan kalian? Kaget, takut, teriak dan terakhir lari. Hahaha bagi saya tidak. Sama sekali tidak untuk saat itu. Karena ularnya mati. Hahaha 😀

DSC08862

Ditempat rantauan saya, setiap berangkat kuliah jalan pintas tercepat lewat jalan tikus. Ada semacam jalan bobolan yang berbeda dengan jalan raya. Seperti dulu waktu masih kecil kita lewat sawah. Tiba-tiba flashback ya ingat berangkat sekolah lewat sawah. Kalau kuliah gak mungkin rasanya seperti itu tapi nyatanya saya seperti itu lagi.

Belum aktif kuliah untuk saat ini. Siang tadi saya bersama teman kamar saya berangkat ke kampus untuk bayar SPP. Karena memang belum bayar akhirnya kami bergegas meskipun setelah sholat jumat. Biasanya pagi-pagi sekali kita berangkat namun untuk saat ini tidak. Ternyata ada kejadian yang berkesan bagi saya.

Lewat sawah itulah beberapa adek-adek kecil sekitar kelas 3 SD sedang bermain di tengah sawah. Karena ada pematang sawah yang lumayan besar untuk ukuran lalu lalang warga. Nah tepat ditengah pematang sawah itu ada adek-adek sekitar 3 orang datang dari arah berlawanan cepat-cepat menghampiri saya lengkap dengan tongkat pancing dan kail yang sudah diisi umpan.

DSC08902

“Kak lihat ada ular.” Anak laki-laki berbadan bongsor paling depan tiba-tiba melempar benang pancingnya kepada saya. Nah karena saya paling depan jadi yang pernah kena sodoran ular ya saya. Saya kaget tapi tak menampakkan kekagetan saya karena saya heran kok bisa mereka dapat ular (tapi wajar sih di tengah sawah juga). Masalahnya ularnya kecil dan sudah tak bernyawa. Saya lihat kepala ularnya sudah loyo sedikit dibawah kepalanya nyangkut di kail pancing. Ularnya jadi umpan (ada-ada aja).

Nah teman saya tadi terpekik sambil perlahan meninggalkan saya. Saya masih melihat ular yang bernasib malang di tangan mereka itu. Ukurannya kecil mungkin lebih besar kadal sawah. Warnanya kuning hijau hitam.

“Nemu ndek ndi? (Nemu dimana?)” Sambil menyingkirkan benang pancing dari hadapan saya.

“Sawah. Akeh mbak. (Banyak mbak)” sahut anak yang sedikit kurusan.

“Diapakno kok wes mati? (Diapakan kok sudah mati?)” Mereka hanya tertawa cekikikan. Sambil saya goda “Awas loh jangan main ular-ularan gitu nanti punya kalian digigit ular.” Saya hanya cekikikan meninggalkan mereka ditengah teriakan “Gak bakal mbak.”

Pulangnya saya ketemu dengan salah satu dari ketiga adek-adek sawah tadi. Anak paling bongsor dan giginya sedikit keropos di depan. Ditangannya ada tongkat pancing dan tas kresek plastik warna hitam sedang.

“Nemu ulo maneh a? (Nemuin ular lagi tah?)” Tanya saya basa-basi

“Iyo akeh!” Jawabnya cuek sambil ngakak.

“Se ndelok! (Mana liat!)” Jawabnya hanya Hehehe… tanpa menunjukkan isi kreseknya. Perkiraan saya dia bohong, isi kreseknya juga mungkin isi ikan gatul atau ikan sungai kecil-kecil.

Dalam hati saya Dek.. dek jangan coba-coba nakutin mbak dek. Mbak dulu juga anak sawah sama seperti kalian. Masalah kadal, kecoa, cacing, ulat, belut dan lainnya kakak ndak bakalan takut sama semua binatang. Kecuali buaya darat, dek. Kalo itu kakak angkat tangan ya.. Hahaha 😀 tiba-tiba saya senyum sendiri. Aslinya saya tidak takut untuk ukuran hewan bernama buaya darat itu tapi saya jengkel dan tidak ingin bersangkut paut dengan buaya darat.

Iya.. nostalgia sekali ketemu adek-adek sawah tadi. Dulu sepulang sekolah (SD) selesai makan siang sholat dhuhur saya selalu keluar rumah bareng adek semata wayang saya. Keluar ke sawah, nyari bekicot, nyari ulat, melihara kecebong. Kadang juga main di lapangan, main layang-layang berdua, kadang juga ketemu teman, anak dusun sebelah atau anak desa sebelah. Kadang lari-lari nyari layang-layang tebal (jawa:putus), mandi di sungai depan rumah, kalau hujan suka main hujan-hujan sampe dimarahi ibu. “Cuci sendiri bajunya ya.. kalo mau kotor-kotor gitu.” Ancam ibu saya waktu itu. Jadi satu akhirnya saya dan adik saya yang terpaut empat tahun akhirnya sama-sama cuci baju masing-masing dipancuran samping rumah.

Pulangnya setelah adzan Ashar, bergegas sekali kalo sudah adzan ashar. Cepat-cepat pulang, sampai rumah mandi ganti baju muslim berangkat ngaji di mushollah. Pulangnya main lagi kesawah tapi ndak sampe belepotan lumpur, karna baju yang saya pakai pun masih baju suci ndak kayak baju bermain saya. Selain itu selepas bermain disawah juga saya pakai sholat maghrib di mushollah sepulang bermain.

Kadang lucu ingat dulu main di sawah, masuk pesantren sudah beda lagi. Pemandangannya juga sudah bukan sawah lagi tapi tambak dan laut. Di belakang pesantren ada tambak di depan pesantren juga ada laut. Yang bikin gemas di pesantren juga ndak bisa keluar kayak dulu waktu masih kecil. Yang bikin gemas untuk waktu-waktu tertentu keluar beberapa biawak dari semak-semak belakang pesantren. Ingat saya hari kemaren kadal hari ini biawak.

Itu salah satu kenangan saya sewaktu masih SD. Saya merasakan itu semua, saya juga anak desa, saya juga anak sawah. Suka main keluar rumah, tanpa gadget.

Yang ingin saya katakan lagi, dulu saya bahagian tanpa kecanggihan. Bagi saya kecanggihan waktu itu hanya milik mereka yang sudah ‘menjadi orang’. Bahkan orang tua saya pun waktu itu masih setia memakai telfon kabel, satu-satunya dirumah.

Iklan

1 thought on “Ular dan Anak Sawah”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s